|
Ketika Cinta Tak Bersyarat |
|
|
|
|
Monday, 08 March 2010 |
Will adalah mantan narapidana dan Elly, wanita yang introvert yang kaku serta culas. Tidak ada pilihan lagi bagi Will selain mengambil langkah gila. Will baru saja keluar dari penjara dan membaca sebuah iklan lucu di Koran lokal - Dicari seorang suami. Pemuat iklan tersebut adalah Elly, seorang wanita frustasi karena suaminya meninggal.
Will sebenarnya merasa bodoh. Namun tidak ada cara lain baginya untuk memiliki tempat tinggal selain mengetuk rumah Elly dan meminangnya. Sungguh! Sebuah lelucon yang membuat seluruh isi kota tertawa. Will lebih terperanjat ketika wanita yang ingin dinikahinya tengah hamil dan harus membesarkan dua putranya yang masih kecil.
Barangkali cinta yang murni datang ketika ujian dalam hidup terus menerpa. Kisah percintaan Will dan Elly bukanlah ledakan yang menggelora di awal perjumpaan. Bukan juga malam-malam romantis bertabur mawar, atau pesta dansa gemerlap yang menggunakan gaun seindah Marie Aintoinette. Lebih gawat dari itu, hari-hari mereka penuh pertengkaran.
Will dan Elly memulai hari-hari mereka dengan pekerjaan rumah dan mengasuh anak. Namun dari situlah Will melihat sosok Elly sebagai seorang ibu yang melindungi dan mencintai anaknya-anaknya. Elly mampu mengembalikan masa kanak-kanak yang mengenaskan bagi Will, dimana ia harus tinggal di sebuah panti asuhan.
Akankah seorang mantan pembunuh seperti Will mencintai Elly? wanita pemarah yang pernah melemparinya dengan telur. Percaya atau tidak, namun dari situlah permulaan benih-benih cinta tumbuh dalam hati Will.
Novel yang ditulis Lavyrle Spencer ini, membangun tokoh yang kuat dan konsisten sejak awal. Sosok Will digambarkan seorang laki-laki yang memiliki rasa percaya diri yang rendah dan kaku. Barangkali karena ia mantan pembunuh dan memiliki label yang buruk.
Kendati demikian, Will sebenarnya seorang yang sensitif, dan rapuh. Di balik semua itu, Will terus mencari sepotong waktu yang hilang, yaitu masa kanak-kanak yang terenggut.
Sementarai itu Elly adalah wanita yang culas. Masa kecilnya yang penuh tekanan membuat dirinya terkukung dan tumbuh sebagai perempuan aneh yang tidak suka bergaul. Seluruh kota mencela dirinya, sebagai perempuan yang ‘agak miring’
Mereka berdua adalah reprentasi dari manusia-manusia terbuang atau yang dikucilkan. Mereka pun ini dianggap tidak layak bagi kacamata masyarakat sekitarnya. Namun, cinta tentunya memberikan sebuah tempat bagi mereka untuk dianggap ada sebagai ‘manusia’
Novel terbitan Gagasmedia ini mengkisahkan cinta kedua anak manusia yang dibangun dengan murni dan mengharukan. Cinta yang sederhana. Bahwa mereka berhak atas kehidupan yang lebih baik, dan lahir baru ketika orang lain selalu menghakimi. Mereka tetap tangguh dan saling memberikan kekuatan ketika seluruh dunia seolah berbalik memusuhinya.
Novel ini mengulas tentang manusia yang kelaparan. Bukan lapar akan makanan, tapi lapar cinta. Juga manusia yang tidak punya tempat tinggal, bukan hanya karena tidak punya rumah. Tapi karena sebuah penolakan.
Selamat membaca! |